YOGYAKARTA
Yogyakarta atau Jogjakarta telah dikenal dengan julukan
“Keindahan Asia yang Tiada Akhir”. Banyak yang mengatakan bahwa hanya sekali
mengunjugi Yogyakarta tidaklah cukup.
Sejumlah hal yang bisa Anda rasakan di Jogja akan menjadi
luar biasa. Anda dapat mulai dari keindahan alamnya, kekayaan seni dan tradisi
dan warisan budaya, hingga berwisata kuliner. Inilah sebabnya mengapa Jogja
menjadi tujuan wisata paling sering dikunjungi kedua di Indonesia setelah Bali.
Ada sekitar 70.000 industri kerajinan dan fasilitas lain
seperti akomodasi dan transportasi. Sejumlah restoran, agen perjalanan, dan
sarana pendukung pariwisata yang layak, dan polisi pariwisata yang dikenal
sebagai Bhayangkara Wisata.
Kondisi geografis Jogjakarta yang sangat mendukung, Cuaca
yang bersahabat memastikan Anda dapat merencanakan perjalanan dengan baik.
Pemandangan yang indah sepanjang jalan membuat perjalanan Anda ke setiap tujuan
menjadi berarti dan berkesan.
Terdapat sekitar 31 tempat wisata budaya dan 19 wisata alam
yang indah untuk Anda jelajahi. Datanglah untuk memastikan bahwa Anda tidak
melewatkan waktu megunjungi kemegahan candi Borobudur dan Prambanan serta
melihat langsung kerajinan perak di Kotagede.
Selain itu Anda juga dapat mengunjungi Gua Selarong, Pantai
Pandansimo, Gunung Gajah, atau Benteng Vredeburg. Untuk mengetahui sejarah
kesultanan maka datanglah ke Keraton Yogyakarta dan Tamansari.
Perjalanan ke Jogja tidak akan lengkap tanpa mampir ke
Malioboro. Malioboro adalah sebuah surga belanja. Deretan toko dan outlet
menjual beragam cenderamata yang bisa Anda bawa pulang. Di sini Anda dapat
mencoba kemampuan tawar-menawar dengan penjual.
Sejarah
Jogjakarta membentang dari lereng Gunung Merapi di utara
hingga ke pantai Samudera Hindia di selatan. Di sinilah berada Kerajaan
Besar di Jawa yaitu Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat.
Yogjakarta bermula tahun 1755, ketika Mataram dibagi menjadi dua yaitu ke Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Pangeran Mangkubumi membangun Keraton Yogyakarta dan menciptakan salah satu negara Jawa yang paling kuat yang pernah ada. Urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta (lihat Maklumat Yogyakarta Nomor 18 Tahun 1946 ). Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945 . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang.
Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi:
Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedangkan kekuasaan Kadipaten Pakualaman meliputi:
Kabupaten Kota Pakualaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.
Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945 ) yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.
Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.
Yogjakarta bermula tahun 1755, ketika Mataram dibagi menjadi dua yaitu ke Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Pangeran Mangkubumi membangun Keraton Yogyakarta dan menciptakan salah satu negara Jawa yang paling kuat yang pernah ada. Urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta (lihat Maklumat Yogyakarta Nomor 18 Tahun 1946 ). Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945 . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang.
Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi:
Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedangkan kekuasaan Kadipaten Pakualaman meliputi:
Kabupaten Kota Pakualaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.
Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945 ) yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.
Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.
Transportasi
Tersedia penerbangan domestik dan internasional ke
Yogyakarta. Stasiun Kereta Tugu dekat Jalan Malioboro memiliki kereta cepat dan
murah dari Jawa ke daerah lain setiap harinya. Ada juga pelayanan kereta cepat
dari Jakarta dan Surabaya. Bus-bus juga beroperasi secara berkala ke candi
Borobudur dan Prambanan. Motor dan sepeda dapat Anda sewa dengan harga yang
murah.
Masyarakat dan Budaya
Masyarakat Jogjakarta dikenal dengan keramahan dan
kesopanannya. Jika Anda menunjukan kesopanan, maka Anda akan diterima
masyarakatnya. Jogja adalah tempat yang damai dan santai jika dibandingkan
dengan kota lain di Indonesia. Inilah alasan mengapa banyak orang menganggapnya
sebagai kota yang tepat untuk pensiun karena kehidupannya yang tenang dan
harmonis. Karena itu pula waktu di sini seolah berjalan lambat.
Kuliner
Jogjakarta menawarkan banyak kuliner lezat. Salah satu makanan yang terkenal di Jogja adalah Gudeg. Ada juga bakpia,
wingko babat, yangko, enting-enting kacang, dll. Anda akan dimanjakan dengan
banyak pilihan kuliner menarik di sini.
Sumber :
www.indonesia.travel/id/discover-indonesia/region.../di-yogyakarta
wibihandika.wordpress.com/2012/11/15/artikel-tentang-yogyakarta/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar