cling


Minggu, 08 Maret 2015

Cerita tentang terowongan pohon di Bali

Bunut Bolong seperti terowongan dari pohon Bunut Bolong seperti terowongan dari pohon
Foto Lain
detikTravel Community -  

Jalan raya terbuat dari bahan beton, tapi tidak di Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, terdapat terowongan yang terbuat dari pohon yang cukup besar. Tidak cuma itu, ada cerita magis juga di dalamnya.
Terowongan pohon tersebut biasa dikenal dengan nama Bunut Bolong. Pohon ini terletak di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, 49 km ke arah timur dari Kota Negara dan kurang lebih kurang 86 km ke arah barat Kota Denpasar. 
Pohon tua yang ada di tengah jalan itu memiliki batang yang cukup besar, bahkan lebih lebar dari jalan raya. Pada bagian bawahnya, pohon tersebut terdapat lubang besar dan bisa dilalui oleh kendaraan umum, layaknya sebuah terowongan.
Tidak jauh dari terowongan pohon, atau tepatnya di sebelah selatan pohon, terdapat sebuah tempat suci, yaitu Pura Pujangga Sakti. Pura ini dibangun untuk menghormati seorang empu bernama Dang Hyang Sidhi Mantra, karena beliau pernah singgah dan melewati kawasan tersebut. Pura ini sering dikunjungi wisatawan, baik untuk beribadah maupun hanya sekadar melihat-lihat saja.
Pohon Bunut Bolong juga diyakini masyarakat Bali mempunyai kekuatan magis. Sampai saat ini, belum diketahui asal mulanya secara pasti mengenai Bunut Bolong ini. Banyak sekali cerita rakyat yang berbeda-beda dari penduduk sekitar maupun masyarakat Bali mengenai keberadaan pohon tersebut. 
Berdasarkan informasi dari warga setempat, pohon ini sudah ada dari puluhan tahun yang lalu, sebelum Desa Manggisari ada atau sekitar tahun 1928. Konon, zaman dulu banyak terjadi kejadian aneh di desa ini. Salah satunya adalah warga terjangkit wabah penyakit yang aneh. Setelah di telusuri, akhirnya warga mendapatkan 'petunjuk' agar penduduk yang bermukim di sebelah utara Bunut Bolong untuk pindah ke sebelah selatan dari Pohon tersebut. 
Akhirnya, penduduk di sekitar utara pohon itu pun menjalani petunjuk tersebut dan penyakit yang diderita oleh masyarakat sembuh dengan sendirinya. Bahkan wabahnya pun tidak pernah kembali lagi sampai saat ini. Dengan kejadian demikianlah, maka penduduk di sekitar kawasan Bunut Bolong ini sangat menyakini kekuatan magis yang terdapat pada pohon tersebut.

Sumber : travel.detik.com/read/.../cerita-magis-dari-terowongan-pohon-di-bali

SEJARAH PANTAI WATU ULO DI JEMBER, JAWA TIMUR

SEJAR WATU ULO
Watu Ulo adalah nama salah satu pantai yang ada di wilayah kabupaten Jember. Selama ini Watu Ulo telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari daerah Jember maupun di luar Jember. Selain karena keindahan pantai serta pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya, ada satu ciri khas lagi yang membuat pantai Watu Ulo menjadi sangat istimewa. Hal itu tak lain adalah susunan batu panjang yang menjorok ke pantai dan menyerupai bentuk ular.

Tak diragukan lagi, susunan batu yang memanjang dan menyerupai ular itulah yang membuat pantai ini kemudian dikenal khas dengan sebutan Watu Ulo. Jika Anda pernah berkunjung ke sana, Anda akan melihat sendiri bahwa batu tersebut tak dijuluki 'watu ulo' atau 'batu ular' tanpa sebab. Selain bentuknya yang memanjang menyerupai ular, struktur batu tersebut juga mirip dengan sisik ular.

Keunikan struktur batu tersebut memunculkan banyak legenda serta cerita mengenai asal-usulnya. Salah satunya adalah yang dituturkan langsung oleh Anshori, penjaga Pantai Watu Ulo pada merdeka.com, Minggu (07/09) lalu.

Konon, dipercaya bahwa wilayah pantai selatan tersebut dihuni oleh Nogo Rojo yang berwujud ular raksasa. Nogo Rojo yang menguasai wilayah pantai ini memakan semua hewan yang ada di dalamnya, hingga masyarakat tidak bisa mendapatkan makanan dari tepat tersebut.

Lantas, tersebutlah dua orang pemuda bernama Raden Said dan Raden Mursodo yang bersaudara. Kedua pemuda tersebut adalah anak angkat dari Nini dan Aki Sambi, pasangan yang sudah berusia cukup tua. Raden Said dalam cerita ini dipercaya sama dengan Raden Said yang nantinya dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Singkat cerita, legenda mengatakan bahwa kedua pemuda tersebut memancing di tempat Nogo Rojo tinggal. Karena semua hewan di sana telah dimakan oleh Sang Ular Raksasa, maka kedua pemuda tersebut tak berhasil mendapatkan ikan satu pun. Hingga akhirnya, kail Raden Mursodo berhasil mengait satu ikan yang disebut ikan mina.

Ikan mina itu ternyata bisa berbicara. Dia meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan mina tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.

Namun tak berapa lama kemudian, ternyata muncullah Nogo Rojo dan langsung memakan ikan mina yang sudah dilepaskan oleh Raden Mursodo. Geram, Raden Mursodo segera melawan Sang Ular Raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Inilah yang menjadi asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.

Saking besarnya, tiga bagian ular raksasa itu terpencar. Bagian badannya berada di Pantai Watu Ulo Jember, bagian kepalanya berada di Grajakan Banyuwangi, dan bagian ekornya berada di Pacitan. Potongan tubuh Nogo Rojo itulah yang kemudian hingga saat ini dipercaya menetap di pantai Watu Ulo dan menjelma menjadi batu-batuan yang menjorok ke laut.

Meski mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun ada fakta-fakta unik yang membuat masyarakat percaya dengan mitos tersebut. Salah satunya adalah bahwa panjang batu yang seperti ular tersebut diketahui sangat panjang dan besar.

Panjang Watu Ulo dari pesisir yang menjorok ke laut yang berada di atas pasir dan di bawah air adalah sekitar 500 meter. Namun besar watu ulo yang berada di bawah pasir masih belum diketahui hingga kini. Bahkan diyakini bahwa panjang watu ulo dari pesisir ke daratan bisa menembus sampai ke hutan di sekitar kawasan Watu Ulo dan Teluk Papuma.

Versi lain dari mitos Watu Ulo adalah bahwa batu panjang tersebut merupakan perwujudan naga yang sedang tertidur dan bersemedi. Naga tersebut diutus oleh Ajisaka untuk bersemedi, dan nantinya dipercaya bahwa naga itu akan terbangun dan menjadi manusia. Versi ini ada dalam buku Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia, karya Dr Sukatman M.Pd.

Apapun versinya, mitos dan legenda yang beredar tentang fenomena unik alam seperti Watu Ulo tentunya sangat menarik untuk digali. Legenda semacam ini juga menjadi kekayaan tersendiri bagi kebudayaan dan folklore masyarakat Indonesia. Jika ingin membuktikan semirip apa batu memanjang tersebut dengan tubuh ular, datanglah ke Pantai Watu Ulo di Jember, Jawa Timur!


Sumber : www.merdeka.com › GAYA