Winda's Blogger
cling
Kamis, 12 November 2015
Minggu, 08 Maret 2015
Cerita tentang terowongan pohon di Bali
detikTravel Community -
Jalan raya terbuat dari bahan beton, tapi tidak di Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, terdapat terowongan yang terbuat dari pohon yang cukup besar. Tidak cuma itu, ada cerita magis juga di dalamnya.
Terowongan pohon tersebut biasa dikenal dengan nama Bunut Bolong. Pohon ini terletak di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, 49 km ke arah timur dari Kota Negara dan kurang lebih kurang 86 km ke arah barat Kota Denpasar.
Pohon tua yang ada di tengah jalan itu memiliki batang yang cukup besar, bahkan lebih lebar dari jalan raya. Pada bagian bawahnya, pohon tersebut terdapat lubang besar dan bisa dilalui oleh kendaraan umum, layaknya sebuah terowongan.
Tidak jauh dari terowongan pohon, atau tepatnya di sebelah selatan pohon, terdapat sebuah tempat suci, yaitu Pura Pujangga Sakti. Pura ini dibangun untuk menghormati seorang empu bernama Dang Hyang Sidhi Mantra, karena beliau pernah singgah dan melewati kawasan tersebut. Pura ini sering dikunjungi wisatawan, baik untuk beribadah maupun hanya sekadar melihat-lihat saja.
Pohon Bunut Bolong juga diyakini masyarakat Bali mempunyai kekuatan magis. Sampai saat ini, belum diketahui asal mulanya secara pasti mengenai Bunut Bolong ini. Banyak sekali cerita rakyat yang berbeda-beda dari penduduk sekitar maupun masyarakat Bali mengenai keberadaan pohon tersebut.
Berdasarkan informasi dari warga setempat, pohon ini sudah ada dari puluhan tahun yang lalu, sebelum Desa Manggisari ada atau sekitar tahun 1928. Konon, zaman dulu banyak terjadi kejadian aneh di desa ini. Salah satunya adalah warga terjangkit wabah penyakit yang aneh. Setelah di telusuri, akhirnya warga mendapatkan 'petunjuk' agar penduduk yang bermukim di sebelah utara Bunut Bolong untuk pindah ke sebelah selatan dari Pohon tersebut.
Akhirnya, penduduk di sekitar utara pohon itu pun menjalani petunjuk tersebut dan penyakit yang diderita oleh masyarakat sembuh dengan sendirinya. Bahkan wabahnya pun tidak pernah kembali lagi sampai saat ini. Dengan kejadian demikianlah, maka penduduk di sekitar kawasan Bunut Bolong ini sangat menyakini kekuatan magis yang terdapat pada pohon tersebut.
Sumber : travel.detik.com/read/.../cerita-magis-dari-terowongan-pohon-di-bali
SEJARAH PANTAI WATU ULO DI JEMBER, JAWA TIMUR
SEJAR WATU ULO
Watu Ulo adalah nama salah satu pantai yang ada di wilayah kabupaten Jember. Selama ini Watu Ulo telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari daerah Jember maupun di luar Jember. Selain karena keindahan pantai serta pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya, ada satu ciri khas lagi yang membuat pantai Watu Ulo menjadi sangat istimewa. Hal itu tak lain adalah susunan batu panjang yang menjorok ke pantai dan menyerupai bentuk ular.
Tak diragukan lagi, susunan batu yang memanjang dan menyerupai ular itulah yang membuat pantai ini kemudian dikenal khas dengan sebutan Watu Ulo. Jika Anda pernah berkunjung ke sana, Anda akan melihat sendiri bahwa batu tersebut tak dijuluki 'watu ulo' atau 'batu ular' tanpa sebab. Selain bentuknya yang memanjang menyerupai ular, struktur batu tersebut juga mirip dengan sisik ular.
Keunikan struktur batu tersebut memunculkan banyak legenda serta cerita mengenai asal-usulnya. Salah satunya adalah yang dituturkan langsung oleh Anshori, penjaga Pantai Watu Ulo pada merdeka.com, Minggu (07/09) lalu.
Konon, dipercaya bahwa wilayah pantai selatan tersebut dihuni oleh Nogo Rojo yang berwujud ular raksasa. Nogo Rojo yang menguasai wilayah pantai ini memakan semua hewan yang ada di dalamnya, hingga masyarakat tidak bisa mendapatkan makanan dari tepat tersebut.
Lantas, tersebutlah dua orang pemuda bernama Raden Said dan Raden Mursodo yang bersaudara. Kedua pemuda tersebut adalah anak angkat dari Nini dan Aki Sambi, pasangan yang sudah berusia cukup tua. Raden Said dalam cerita ini dipercaya sama dengan Raden Said yang nantinya dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.
Singkat cerita, legenda mengatakan bahwa kedua pemuda tersebut memancing di tempat Nogo Rojo tinggal. Karena semua hewan di sana telah dimakan oleh Sang Ular Raksasa, maka kedua pemuda tersebut tak berhasil mendapatkan ikan satu pun. Hingga akhirnya, kail Raden Mursodo berhasil mengait satu ikan yang disebut ikan mina.
Ikan mina itu ternyata bisa berbicara. Dia meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan mina tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.
Namun tak berapa lama kemudian, ternyata muncullah Nogo Rojo dan langsung memakan ikan mina yang sudah dilepaskan oleh Raden Mursodo. Geram, Raden Mursodo segera melawan Sang Ular Raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Inilah yang menjadi asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.
Saking besarnya, tiga bagian ular raksasa itu terpencar. Bagian badannya berada di Pantai Watu Ulo Jember, bagian kepalanya berada di Grajakan Banyuwangi, dan bagian ekornya berada di Pacitan. Potongan tubuh Nogo Rojo itulah yang kemudian hingga saat ini dipercaya menetap di pantai Watu Ulo dan menjelma menjadi batu-batuan yang menjorok ke laut.
Meski mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun ada fakta-fakta unik yang membuat masyarakat percaya dengan mitos tersebut. Salah satunya adalah bahwa panjang batu yang seperti ular tersebut diketahui sangat panjang dan besar.
Panjang Watu Ulo dari pesisir yang menjorok ke laut yang berada di atas pasir dan di bawah air adalah sekitar 500 meter. Namun besar watu ulo yang berada di bawah pasir masih belum diketahui hingga kini. Bahkan diyakini bahwa panjang watu ulo dari pesisir ke daratan bisa menembus sampai ke hutan di sekitar kawasan Watu Ulo dan Teluk Papuma.
Versi lain dari mitos Watu Ulo adalah bahwa batu panjang tersebut merupakan perwujudan naga yang sedang tertidur dan bersemedi. Naga tersebut diutus oleh Ajisaka untuk bersemedi, dan nantinya dipercaya bahwa naga itu akan terbangun dan menjadi manusia. Versi ini ada dalam buku Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia, karya Dr Sukatman M.Pd.
Apapun versinya, mitos dan legenda yang beredar tentang fenomena unik alam seperti Watu Ulo tentunya sangat menarik untuk digali. Legenda semacam ini juga menjadi kekayaan tersendiri bagi kebudayaan dan folklore masyarakat Indonesia. Jika ingin membuktikan semirip apa batu memanjang tersebut dengan tubuh ular, datanglah ke Pantai Watu Ulo di Jember, Jawa Timur!
Sumber : www.merdeka.com › GAYA
Watu Ulo adalah nama salah satu pantai yang ada di wilayah kabupaten Jember. Selama ini Watu Ulo telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari daerah Jember maupun di luar Jember. Selain karena keindahan pantai serta pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya, ada satu ciri khas lagi yang membuat pantai Watu Ulo menjadi sangat istimewa. Hal itu tak lain adalah susunan batu panjang yang menjorok ke pantai dan menyerupai bentuk ular.
Tak diragukan lagi, susunan batu yang memanjang dan menyerupai ular itulah yang membuat pantai ini kemudian dikenal khas dengan sebutan Watu Ulo. Jika Anda pernah berkunjung ke sana, Anda akan melihat sendiri bahwa batu tersebut tak dijuluki 'watu ulo' atau 'batu ular' tanpa sebab. Selain bentuknya yang memanjang menyerupai ular, struktur batu tersebut juga mirip dengan sisik ular.
Keunikan struktur batu tersebut memunculkan banyak legenda serta cerita mengenai asal-usulnya. Salah satunya adalah yang dituturkan langsung oleh Anshori, penjaga Pantai Watu Ulo pada merdeka.com, Minggu (07/09) lalu.
Konon, dipercaya bahwa wilayah pantai selatan tersebut dihuni oleh Nogo Rojo yang berwujud ular raksasa. Nogo Rojo yang menguasai wilayah pantai ini memakan semua hewan yang ada di dalamnya, hingga masyarakat tidak bisa mendapatkan makanan dari tepat tersebut.
Lantas, tersebutlah dua orang pemuda bernama Raden Said dan Raden Mursodo yang bersaudara. Kedua pemuda tersebut adalah anak angkat dari Nini dan Aki Sambi, pasangan yang sudah berusia cukup tua. Raden Said dalam cerita ini dipercaya sama dengan Raden Said yang nantinya dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.
Singkat cerita, legenda mengatakan bahwa kedua pemuda tersebut memancing di tempat Nogo Rojo tinggal. Karena semua hewan di sana telah dimakan oleh Sang Ular Raksasa, maka kedua pemuda tersebut tak berhasil mendapatkan ikan satu pun. Hingga akhirnya, kail Raden Mursodo berhasil mengait satu ikan yang disebut ikan mina.
Ikan mina itu ternyata bisa berbicara. Dia meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan mina tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.
Namun tak berapa lama kemudian, ternyata muncullah Nogo Rojo dan langsung memakan ikan mina yang sudah dilepaskan oleh Raden Mursodo. Geram, Raden Mursodo segera melawan Sang Ular Raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Inilah yang menjadi asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.
Saking besarnya, tiga bagian ular raksasa itu terpencar. Bagian badannya berada di Pantai Watu Ulo Jember, bagian kepalanya berada di Grajakan Banyuwangi, dan bagian ekornya berada di Pacitan. Potongan tubuh Nogo Rojo itulah yang kemudian hingga saat ini dipercaya menetap di pantai Watu Ulo dan menjelma menjadi batu-batuan yang menjorok ke laut.
Meski mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun ada fakta-fakta unik yang membuat masyarakat percaya dengan mitos tersebut. Salah satunya adalah bahwa panjang batu yang seperti ular tersebut diketahui sangat panjang dan besar.
Panjang Watu Ulo dari pesisir yang menjorok ke laut yang berada di atas pasir dan di bawah air adalah sekitar 500 meter. Namun besar watu ulo yang berada di bawah pasir masih belum diketahui hingga kini. Bahkan diyakini bahwa panjang watu ulo dari pesisir ke daratan bisa menembus sampai ke hutan di sekitar kawasan Watu Ulo dan Teluk Papuma.
Versi lain dari mitos Watu Ulo adalah bahwa batu panjang tersebut merupakan perwujudan naga yang sedang tertidur dan bersemedi. Naga tersebut diutus oleh Ajisaka untuk bersemedi, dan nantinya dipercaya bahwa naga itu akan terbangun dan menjadi manusia. Versi ini ada dalam buku Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia, karya Dr Sukatman M.Pd.
Apapun versinya, mitos dan legenda yang beredar tentang fenomena unik alam seperti Watu Ulo tentunya sangat menarik untuk digali. Legenda semacam ini juga menjadi kekayaan tersendiri bagi kebudayaan dan folklore masyarakat Indonesia. Jika ingin membuktikan semirip apa batu memanjang tersebut dengan tubuh ular, datanglah ke Pantai Watu Ulo di Jember, Jawa Timur!
Sumber : www.merdeka.com › GAYA
Sabtu, 21 Februari 2015
Sabtu, 14 Februari 2015
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara
Daripada Wikipedia, ensiklopedia
bebas.
Air terjun
Niagara, dilihat dari A.S.
Air terjun Niagara (Bahasa Inggeris: Niagara Falls, Bahasa Perancis: les Chutes du Niagara) ialah satu kelompok air
terjun yang besar di Sungai Niagara yang terbentang di sempadan antarabangsa yang memisahkan
wilayah Ontario, Kanada dan negeri New York, Amerika Syarikat. Air terjun ini terletak 27 km di barat daya Buffalo, New York, 120 km di selatan Toronto, Ontario di antara bandar berkembar Niagara
Falls, Ontario dan Niagara
Falls, New York.
Air terjun
Niagara sebenarnya terdiri tiga buah air terjun. Dua buah bahagian utama yang
dipisahkan oleh Goat
Island ialah Air
terjun Horseshoe, yang terletak di bahagian sebelah Kanada, dan Air
terjun Amerika, yang terletak di bahagian sebelah Amerika Syarikat. Satu lagi air terjun
yang lebih kecil pula ialah Air
terjun Bridal Veil yang terletak di bahagian sebelah Amerika Syarikat dan dipisahkan daripada
air-air terjun utama oleh Luna
Island. Sistem air
terjun ini terbentuk apabila glasier mula mencair pada penghujung era glasier Wisconsin (zaman air batu terakhir) dan air-air itu, yang berasal dari Tasik-tasik Besar yang juga baru terbentuk, membina
laluan menerusi Tubiran
Niagara dalam
perjalanan menuju ke Lautan Atlantik. Walaupun tidak terlalu tinggi, sistem ini adalah amat
lebar. Lebih 168,000 m³ padu air jatuh dari garis rabungnya pada setiap minit.[1]
Air terjun ini
terkenal kerana keindahannya dan juga sebagai sumber bernilai tinggi untuk
penjanaan hidroelektrik. Menguruskan keseimbangan di antara
kegunaan rekreasi, komersil dan perusahaan telah menjadi satu cabaran bagi
penjaga air terjun ini sejak tahun 1800-an.
Pemandangan
panorama Air terjun Niagara.
Sejarah Terbentuknya Air Terjun Niagara Falls
Niagara
adalah air terjun besar di sungai Niagara yang berada di garis perbatasan
internasional antara negara bagian Amerika Serikat New York dengan provinsi
Kanada Ontario. Air terjun ini berjarak sekitar 17 mil (27 km) sebelah utara
barat laut dari Buffalo, New York dan 75 mil (120 km) tenggara Toronto,
Ontario.
Niagara adalah nama kelompok dari tiga air terjun. Ketiga air terjun tersebut adalah air terjun Horseshoe (kadang-kadang disebut sebagai air terjun Kanada), air terjun Amerika, dan yang lebih kecil yakni air terjun Bridal Veil yang dipisahkan oleh sebuah pulau bernama Luna Island dari air terjun utama.
Meski tidak terlalu tinggi, Niagara merupakan air terjun yang sangat lebar dan terpopuler di dunia. Lebih dari 6 juta kaki kubik (168.000 m3) air per menit dijatuhkan dan ini merupakan air terjun yang paling kuat di Amerika Utara.
Niagara juga terkenal akan pelangi indahnya yang melintang di tengah derasnya air terjun. Keindahan alam yang terdapat di sekeliling Niagara membuat jutaan orang dari setiap belahan dunia mengunjunginya setiap hari. Apalagi kalau bukan untuk melihat air terjun yang paling populer ini. Sehingga, devisa pun banyak mengalir bagi kedua negara ini.
Pada tanggal 29 Maret 1848 adanya kemacetan es di atas sungai selama beberapa jam karena itu aliran air ini lebih baik dihentikan sepenuhnya. Ini adalah satu-satunya waktu diketahui telah terjadi. Air terjun tidak benar-benar membeku, namun aliran dihentikan ke titik di mana orang benar-benar berjalan keluar dan pulih artefak dari dasar sungai!
Aliran atas American Falls dihentikan sepenuhnya selama beberapa bulan pada tahun 1969. Idenya adalah untuk menentukan kelayakan menghilangkan sejumlah besar batuan lepas dari dasar air terjun untuk meningkatkan penampilan itu. Pada akhirnya keputusan akhir adalah bahwa biaya akan terlalu besar.
Niagara adalah nama kelompok dari tiga air terjun. Ketiga air terjun tersebut adalah air terjun Horseshoe (kadang-kadang disebut sebagai air terjun Kanada), air terjun Amerika, dan yang lebih kecil yakni air terjun Bridal Veil yang dipisahkan oleh sebuah pulau bernama Luna Island dari air terjun utama.
Meski tidak terlalu tinggi, Niagara merupakan air terjun yang sangat lebar dan terpopuler di dunia. Lebih dari 6 juta kaki kubik (168.000 m3) air per menit dijatuhkan dan ini merupakan air terjun yang paling kuat di Amerika Utara.
Niagara juga terkenal akan pelangi indahnya yang melintang di tengah derasnya air terjun. Keindahan alam yang terdapat di sekeliling Niagara membuat jutaan orang dari setiap belahan dunia mengunjunginya setiap hari. Apalagi kalau bukan untuk melihat air terjun yang paling populer ini. Sehingga, devisa pun banyak mengalir bagi kedua negara ini.
Pada tanggal 29 Maret 1848 adanya kemacetan es di atas sungai selama beberapa jam karena itu aliran air ini lebih baik dihentikan sepenuhnya. Ini adalah satu-satunya waktu diketahui telah terjadi. Air terjun tidak benar-benar membeku, namun aliran dihentikan ke titik di mana orang benar-benar berjalan keluar dan pulih artefak dari dasar sungai!
Aliran atas American Falls dihentikan sepenuhnya selama beberapa bulan pada tahun 1969. Idenya adalah untuk menentukan kelayakan menghilangkan sejumlah besar batuan lepas dari dasar air terjun untuk meningkatkan penampilan itu. Pada akhirnya keputusan akhir adalah bahwa biaya akan terlalu besar.
Sumber :
gheanaa.blogspot.com
Jumat, 06 Februari 2015
Asal mula gunung Fujiyama
Gunung Fujiyama terletak di antara Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di
sebelah Barat Tokyo. Lokasi dari Shizuoka dan Yamanashi ini ada di wilayah
Chubu (Pulau Honshu). Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat
Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (Timur), Fuji-Yoshida
(Utara), dan Fujinomiya (Barat daya). Fujisan ini adalah gunung terbesar di
Jepang yang memiliki tinggi 3.776 m. Waw! Itu artinya, gunung ini lebih tinggi
daripada Gunung Semeru (3.676 m).
Asal Mula Nama Gunung Fujiyama
Gunung Fuji adalah gunung keabadian
atau orang Jepang menyebutnya Fuji san (san berarti gunung, khusus untuk
menyebut gunung Fuji) merupakan gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan
Prefektur Shizuoka dan Yamanashi. Ketinggian gunung Fuji adalah 3.776 M. Gunung ini adalah simbol bagi negara Jepang
selain bunga sakura.
Dibalik keindahan panoramanya Fujiyama memiliki legenda cerita yang menarik. Dikisahkan pada jaman dahulu kala hidup sepasang kakek nenek di desa terpencil. Pekerjaan sang kakek adalah sebagai penebang bambu. Sahabat anehdidunia.com pada suatu hari ketika sang kakek akan menebang bambu, ia melihat bambu yang bercahaya seperti emas. Karena penasaran, maka sang kakek memotong bambu tersebut dan ternyata di dalam bambu itu ditemukan anak perempuan yang kira-kira tingginya 9 cm.
Dibalik keindahan panoramanya Fujiyama memiliki legenda cerita yang menarik. Dikisahkan pada jaman dahulu kala hidup sepasang kakek nenek di desa terpencil. Pekerjaan sang kakek adalah sebagai penebang bambu. Sahabat anehdidunia.com pada suatu hari ketika sang kakek akan menebang bambu, ia melihat bambu yang bercahaya seperti emas. Karena penasaran, maka sang kakek memotong bambu tersebut dan ternyata di dalam bambu itu ditemukan anak perempuan yang kira-kira tingginya 9 cm.
Sang kakek kemudian membawa anak perempuan itu pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kakek memberi tahu nenek dan mereka akhirnya memberi nama anak itu Kaguya. Setelah merawat Kaguya, setiap kakek pergi ke gunung untuk menebang bambu, di dalam bambu tersebut pasti ditemukan emas. Kehidupan merekapun menjadi makmur berkat Kaguya.
Tak terasa putri Kaguya tumbuh menjadi sosok putri yang sangat cantik sampai kecantikannya itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Banyak orang-orang dari kalangan berada sampai pajabat kerajaan ingin mempersunting putri Kaguya, tetapi entah mengapa putri Kaguya menolak lamaran mereka. Putri Kaguya memikirkan cara untuk menolak lamaran mereka dengan menyuruh membawa barang-barang yang mustahil adanya.
Siapa yang berhasil membawa barang-barang yang diinginkan sang putri, maka dia akan menerima lamaran salah satu dari mereka. Barang-barang tersebut diantaranyaadalah mangkuk suci sang Buddha, kalung yang terbuat dari bola mata naga, kipas bercahaya dan lain-lain. Para lelaki itu datang dengan membawa barang yang diminta, namun semua barang yang dibawa itu palsu karena barang yang diminta putri Kaguya tersebut mustahil ditemukan di bumi ini.
Malam bulan purnamapun akan segera datang. Sambil memandang bulan, putri Kaguya menangis dalam kesedihan. Kakek dan nenek merasa khawatir kenapa putri kesayangannya merasa sedih. Akhirnya pada tanggal 8 Agustus, putri Kaguya menyampaikan perasaannya kapada kakek dan nenek. Ia mengaku bahwa sebenarnya ia berasal dari bulan dan harus kembali ke bulan saat bulan purnama tiba. Putri Kaguya sedih karena harus meninggalkan kakek dan nenek yang dicintainya. Karena tidak mau kehilangan putri Kaguya, maka kakek dan nenek berusaha mempertahankan putri Kaguya saat sang putri dijemput oleh utusan bulan untuk kembali ke bulan.
Namun usahanya itu sia-sia. Akhirnya
putri Kaguya pergi menuju bulan. Sebagai kenang-kenangan dan tanda terima
kasih, putri Kaguya memberi Fushi no kusuri (Obat hidup kekal) kepada kakek dan
nenek yang selama ini merawatnya. Sayangnya, kakek membakar obat itu karena ia
merasa meskipun bisa hidup abadi dengan meminum obat itu, tanpa ada Kaguya di
sisi mereka apalah artinya. Kakek membakar obat itu di atas puncak gunung
tertinggi di Jepang. Gunung tempat sang kakek membakar obat itu kemudian diberi
nama Fushi no yama (gunung abadi), dan gunung itu sekarang dikenal dengan nama
Fujiyama.
Misteri Gunung Fujiyama
Selain kisah legenda tersebut, gunung Fujiyama menyimpan sebuah misteri yang cukup menakutkan. Hal ini karena gunung tersebut
dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi mereka yang ingin mengakhiri
hidupnya atau bunuh diri. Hal ini diketahui dari data, bahwa setiap tahunnya
tidak kurang dari 100 mayat yang ditemukan di tempat tersebut.
Atas fenomena tersebut pemerintah dan organisasi setempat pun membuat sebuah tindakan. Antara lain dengan membuat tulisan yang mudah dibaca setiap orang yang masuk ke kawasan gunung Fujiyama. Dalam tulisan itu, setiap orang dianjurkan untuk berpikir dengan jernih sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di gunung Fujiyama tersebut. Mengapa mereka berencana mengakhiri hidupnya disana? sebuah misteri yang belum terjawab hingga sekarang.
Kamis, 29 Januari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
